Artikel

Bantuan untuk Korban Gempa Cianjur, TNI Kirim Trauma Healing

24 Agustus 2026 Cianjur, Jawa Barat 5 views

Gempa magnitudo 5,6 di Cianjur pada Februari 2025 mendorong TNI mengirim psikolog untuk trauma healing anak-anak melalui terapi bermain dan menggambar. Pendekatan ini penting untuk mencegah dampak psikologis jangka panjang, mengingat pengalaman gempa sebelumnya yang meninggalkan banyak kasus PTSD. Aksi ini menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak hanya soal bantuan fisik, tetapi juga pemulihan mental.

Bantuan untuk Korban Gempa Cianjur, TNI Kirim Trauma Healing

Tahun 2025 baru aja dimulai, tapi Kabupaten Cianjur kembali diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 pada Februari lalu. Bukan cuma soal bangunan yang rubuh atau evakuasi, ada sisi lain yang nggak kalah penting: kesehatan mental. Pasalnya, bencana alam nggak cuma ninggalin puing-puing fisik, tapi juga trauma yang bisa nempel lama di benak para korban—terutama anak-anak. Dan di sinilah peran TNI hadir dengan cara yang hangat: trauma healing.

Bukan Cuma Bantuan Fisik, TNI Juga Bawa Psikolog

Gempa yang terjadi di awal 2025 ini membuat banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi. Di tengah situasi genting itu, TNI nggak cuma fokus pada evakuasi dan logistik. Mereka menerjunkan langsung psikolog dan relawan terlatih untuk memberikan terapi psikologis pada anak-anak korban gempa. Lewat kegiatan sederhana seperti terapi bermain dan menggambar, anak-anak diajak mengeluarkan perasaan mereka secara alami. Ini penting banget karena dampak psikologis akibat bencana bisa bertahan lama kalau nggak ditangani sejak dini.

Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa Cianjur sebelumnya pada tahun 2022 menyisakan ribuan orang dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Nah, pengalaman itu jadi pelajaran berharga. Kali ini, pendekatan trauma healing dilakukan lebih cepat dan terstruktur. Anak-anak diajak bermain, menggambar, dan bercerita—semua dengan pendekatan psikologis yang tetap terukur. Kemanusiaan bukan cuma soal kasih makan dan tenda, tapi juga soal memulihkan senyum yang sempat hilang.

Kenapa Kesehatan Mental Harus Jadi Prioritas Saat Bencana?

Mungkin kita sering mikir, urusan bencana ya urusan logistik dan tempat tinggal doang. Padahal, trauma psikologis justru bisa berdampak jangka panjang, terutama pada anak-anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang. Ketakutan, kecemasan, dan rasa kehilangan bisa menghambat kemampuan mereka untuk kembali normal. Lewat terapi bermain, anak-anak belajar mengekspresikan emosi mereka tanpa tekanan. Ini cara yang simpel tapi efektif. Di sisi lain, kegiatan ini juga jadi ajang bonding antara TNI, relawan, dan masyarakat—menunjukkan bahwa kemanusiaan adalah kerja bersama.

Buat kita yang mungkin nggak berada di lokasi bencana, apa sih yang bisa dipelajari? Gampang: bahwa kesehatan mental itu penting dalam setiap situasi, apalagi saat krisis. Trauma healing bukan cuma buat anak-anak korban gempa, tapi juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Saat teman kita terkena musibah, terkadang yang paling dibutuhkan bukan sekadar materi, tapi kehadiran dan dukungan emosional. Jadi, yuk mulai peduli dengan kesehatan mental di sekitar kita—karena resiliensi nggak datang sendiri, butuh genggaman tangan dari sesama.

Entitas yang disebut

Organisasi: TNI

Lokasi: Cianjur