Artikel

Dari Medan Perang ke Meja Rapat: Eks Kombatan Diberdayakan Jadi Pengusaha Kuliner

06 Mei 2026 Berbagai lokasi di Indonesia 4 views

Program pemberdayaan eks kombatan melalui pelatihan kuliner oleh BNPT dan mitra membuka jalan baru untuk reintegrasi dan perdamaian. Dampaknya nyata bagi ekonomi mikro dan penerimaan sosial, membuktikan bahwa solusi ekonomi seringkali lebih ampuh daripada pendekatan keamanan semata. Inisiatif ini menunjukkan bahwa investasi pada manusia dan peluang hidup layak adalah fondasi terkuat untuk membangun masyarakat yang tangguh dan damai.

Dari Medan Perang ke Meja Rapat: Eks Kombatan Diberdayakan Jadi Pengusaha Kuliner

Bayangkan seseorang yang dulu pernah terlibat dalam kelompok bersenjata, kini dengan cekatan menyusun nasi bungkus atau menghias kue tradisional. Perubahan drastis ini bukan cuma imajinasi, tapi kenyataan yang sedang dibangun di tanah air. Deradikalisasi—proses menjauhkan seseorang dari paham radikal—ternyata punya resep rahasia: pendekatan ekonomi dan kemanusiaan yang dimulai dari dapur.

Lebih Dari Sekadar Pelatihan Masak

Badannasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggandeng TNI dan organisasi masyarakat, untuk menggelar program yang unik. Mereka memberikan pelatihan kewirausahaan kuliner bagi para eks kombatan. Ini bukan cuma kursus memasak biasa, tapi sebuah program pemberdayaan komprehensif. Pesertanya, orang-orang yang pernah berada di jalan kekerasan, diajari mulai dari cara mengolah bahan makanan, mengelola keuangan usaha, hingga trik digital marketing untuk memasarkan produk mereka. Program ini memberikan mereka "toolkit" baru untuk bertahan hidup, yang jauh dari senjata dan teror.

Proses ini membangun lebih dari sekadar keterampilan teknis. Saat mereka belajar membuat adonan atau menghitung modal, sesungguhnya mereka sedang membangun rutinitas baru, jaringan sosial yang sehat, dan—yang paling penting—identitas baru. Identitas mereka perlahan bergeser dari label "mantan pelaku" menjadi "calon pengusaha". Ruang interaksi positif dengan instruktur dan sesama peserta menjadi pondasi awal untuk reintegrasi ke dalam masyarakat.

Dampak Nyata: Dari Meja Dapur ke Meja Masyarakat

Dampaknya ternyata menyentuh dua hal sekaligus: ekonomi mikro dan perdamaian sosial. Para eks kombatan yang dulu mungkin ditakuti atau dijauhi, kini mulai diterima sebagai bagian dari komunitas pedagang lokal. Keberhasilan mereka menjual sebungkus nasi, sepotong kue, atau segelas minuman tidak bisa dianggap remeh. Itu adalah modal sosial yang sangat berharga.

Setiap transaksi jual beli yang berhasil, secara tidak langsung adalah sebuah jabat tangan perdamaian. Masyarakat yang membeli produk mereka, secara perlahan mencairkan prasangka. Para pengusaha baru ini tidak lagi dilihat sebagai ancaman, tapi sebagai tetangga yang sedang berusaha mandiri. Kemandirian ekonomi ini menjadi tameng kuat agar mereka tidak tergoda untuk kembali ke jalan lama yang penuh kekerasan.

Cerita ini membuktikan bahwa investasi terbaik untuk menciptakan perdamaian seringkali adalah investasi pada peluang ekonomi dan pengembangan diri manusia. Pendekatan keamanan semata penting, tetapi tanpa diikuti dengan solusi konkret untuk kehidupan sehari-hari, hasilnya bisa tidak maksimal. Memberi seseorang keterampilan dan harapan untuk hidup layak ternyata lebih ampuh dan berkelanjutan.

Jadi, lain kali kamu menikmati hidangan dari pedagang kaki lima atau usaha rumahan, ada cerita besar di baliknya. Bisa jadi, di balik kuliner lezat itu ada perjuangan seseorang membangun hidup baru, meninggalkan masa lalu, dan berkontribusi untuk masyarakat. Ini mengingatkan kita bahwa perdamaian dan kesejahteraan bisa dibangun dari hal-hal sederhana, bahkan dari panasnya dapur dan wangi rempah-rempah.

Entitas yang disebut

Organisasi: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, TNI