Bayangin pagi-pagi mau ngantor atau anak-anak berangkat sekolah, eh jalan satu-satunya nggak bisa dilewatin karena tertutup tanah longsor. Itulah yang terjadi di dua dusun di Pasuruan. Akses utama terputus total, bikin semua aktivitas sehari-hari mandek seketika. Tapi cerita ini nggak berhenti di situ—yang bikin menarik adalah bagaimana masalah besar ini bisa dituntaskan cuma dalam hitungan jam, bukan dengan mesin berat atau tim khusus, tapi dengan semangat gotong royong yang dipimpin oleh seorang Babinsa.
Inisiatif dari Bawah: Babinsa Jadi Penggerak
Figur kuncinya adalah Sertu Lutfi, seorang Bintara Pembina Desa atau Babinsa di wilayah tersebut. Daripada cuma melapor dan nunggu perintah dari atas, dia langsung ambil inisiatif. Langkahnya sederhana tapi powerful: koordinasi dengan perangkat desa, lalu mengajak langsung warga untuk bergerak bersama membersihkan material longsor. Yang bikin kisahnya makin berarti, Sertu Lutfi enggak cuma nyuruh-nyuruh. Dia turun langsung, angkat cangkul, dan kerja bareng-bareng dengan warga. Ini contoh nyata pemimpin yang ada di lapangan, ikut merasakan dan menyelesaikan masalah bersama masyarakat.
Kekuatan Swadaya Masyarakat
Dengan semangat bersama dan peralatan seadanya, material longsor yang nutup jalan itu berhasil dibersihkan hanya dalam beberapa jam. Sebuah prestasi yang luar biasa mengingat biasanya perbaikan infrastruktur seperti ini butuh waktu berhari-hari lewat jalur birokrasi. Ini adalah bentuk murni dari swadaya masyarakat—warga menyadari masalahnya, punya kemauan, dan punya sumber daya (tenaga dan kebersamaan) untuk mengatasinya. Jalan yang tadinya tertutup total akhirnya bisa dilalui lagi dengan aman, mengembalikan denyut kehidupan di dua dusun tersebut.
Dampaknya bagi masyarakat langsung terasa, terutama dari sisi ekonomi dan sosial. Dengan akses jalan yang cepat dibuka, roda perekonomian lokal nggak sampai macet berhari-hari. Pedagang bisa kembali berjualan, anak-anak bisa berangkat sekolah tepat waktu, dan distribusi barang-barang kebutuhan sehari-hari bisa lancar kembali. Lebih dari sekadar membuka jalan, proses ini memperkuat ikatan dan rasa memiliki antarwarga. Mereka membuktikan sendiri bahwa komunitas mereka tangguh dan bisa mandiri dalam menjaga fasilitas yang mereka gunakan bersama.
Cerita dari Pasuruan ini relevan banget buat kita yang hidup di komunitas mana pun. Seringkali kita terbiasa bergantung pada pihak ‘atas’ atau pemerintah untuk menyelesaikan masalah-masalah kecil di lingkungan, seperti jalan rusak, selokan mampet, atau fasilitas umum yang butuh perbaikan. Padahal, dengan semangat gotong royong dan adanya figur penggerak seperti Babinsa yang jadi katalisator, solusinya bisa lebih cepat, lebih murah, dan lebih efisien. Kolaborasi warga dengan pemimpin lokal adalah resep ampuh untuk membangun ketahanan komunitas.
Jadi, lain kali kamu lihat ada masalah kecil di lingkungan sekitar—entah itu sampah menumpuk, jalanan berlubang, atau fasilitas umum yang rusak—mungkin bisa dimulai dengan ngobrol bareng tetangga atau RT setempat. Lihat apa yang bisa dilakukan bersama-sama. Seperti yang dibuktikan warga Pasuruan dan Sertu Lutfi, solusi untuk banyak masalah komunitas seringkali lebih dekat dari yang kita kira, yaitu ada di dalam diri dan kebersamaan kita sendiri.