Artikel

Kisah Prajurit TNI yang Jadi Guru Dadakan untuk Anak-anak Pengungsi Erupsi Gunung Ruang

18 Mei 2026 Sulawesi Utara (sekitar Gunung Ruang) 4 views

Di tengah kedaruratan erupsi Gunung Ruang, prajurit TNI di lokasi pengungsian berinisiatif menjadi guru dadakan bagi anak-anak korban. Aksi sederhana seperti mengajar membaca dan mewarnai ini berhasil mengembalikan senyum, rutinitas, serta rasa aman bagi anak-anak yang trauma. Cerita ini mengajarkan bahwa pemulihan bencana tak hanya soal fisik, tetapi juga dukungan psikologis, dan bahwa kepedulian kecil bisa memberi dampak besar bagi sesama.

Kisah Prajurit TNI yang Jadi Guru Dadakan untuk Anak-anak Pengungsi Erupsi Gunung Ruang

Letusan Gunung Ruang di Sulawesi Utara memang mengagetkan dan menimbulkan keprihatinan. Ribuan warga terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah mereka. Tapi di balik berita tentang abu vulkanik dan kerusakan, ada cerita hangat yang bikin kita tersenyum dan haru. Saat anak-anak di pengungsian hanya bisa menunggu tanpa kegiatan, para prajurit TNI yang bertugas di sana punya ide cemerlang: mereka jadi guru dadakan!

Dari Jaga Keamanan ke Pegang Spidol: Aksi Nyata TNI di Tengah Bencana

Tugas utama mereka memang menjaga keamanan dan membantu logistik di lokasi bencana erupsi Gunung Ruang. Tapi, beberapa anggota TNI melihat ada kebutuhan lain yang gak kalah penting. Mereka perhatikan anak-anak pengungsi yang seharian cuma diam di tenda, bingung mau ngapain. Tanpa mikir panjang dan tanpa latar belakang sebagai guru profesional, mereka ambil inisiatif. Dengan buku-buku sumbangan dan papan tulis seadanya, mereka kumpulin anak-anak untuk belajar membaca, menulis, mewarnai, bahkan mengaji. Ini semua dilakukan di luar tugas resmi mereka, murni karena kepedulian.

Yang bikin ini makin special, mereka ngajar dengan apa adanya. Materi disesuaikan sama usia dan kondisi anak-anak. Gak ada kurikulum ketat, yang ada cuma kreativitas dan kemauan besar untuk berbagi. Dalam situasi serba terbatas pasca erupsi, justru kedua hal itu jadi ‘bahan ajar’ paling berharga. Bayangin, di tengah ketidakpastian, ada orang yang mau meluangkan waktu untuk temani mereka belajar.

Lebih Dari Sekadar ABC: Membangun Kembali Kestabilan Emosi Anak-anak

Dampaknya ternyata jauh lebih dalam dari sekadar transfer pelajaran. Bagi anak-anak yang trauma karena harus lari dari rumah dan hidup di pengungsian, interaksi sosial yang positif ini bikin mereka merasa aman. Senyum dan tawa mulai terdengar lagi di antara tenda-tenda. Mereka punya rutinitas baru yang dinantikan setiap hari: ‘sekolah dadakan’ bersama para tentara.

Aktivitas ini juga jadi terapi ringan. Ini cara buat memproses kejadian berat melalui kegiatan yang membangun dan menyenangkan. Cerita ini ngingetin kita bahwa dampak bencana itu kompleks. Selain butuh makanan dan tempat tinggal, kebutuhan psikologis dan hak belajar anak-anak tetep harus diperhatikan biar gak stres berkepanjangan atau ketinggalan pelajaran. Apa yang dilakukan TNI ini menunjukkan pemahaman akan kebutuhan menyeluruh korban, terutama yang paling rentan: anak-anak.

Kisah ini juga memperlihatkan sisi humanis dari peran TNI di masyarakat. Di saat krisis, mereka gak cuma berdiri di garis depan dengan seragam lengkap. Mereka juga bisa jadi sosok mentor, teman belajar, dan pemberi dukungan emosional. Perhatian dan waktu yang mereka luangkan buktiin bahwa kontribusi paling berarti sering datang dari kesediaan melihat kebutuhan di sekitar dan langsung bertindak, meski cuma dengan cara yang terlihat sederhana.

Buat kita yang mungkin jauh dari lokasi bencana Gunung Ruang, cerita ini kasih pelajaran sederhana: dalam situasi apa pun, kepedulian dan inisiatif kecil bisa ciptakan dampak yang besar banget. Ruang untuk berbagi ilmu dan perhatian bisa muncul di mana aja, bahkan di tenda pengungsian yang sempit. Pemulihan pasca-bencana ternyata bukan cuma soal bangun kembali rumah fisik, tapi juga soal bangun kembali semangat, terutama semangat belajar dan keceriaan generasi penerus.

Entitas yang disebut

Organisasi: TNI

Lokasi: Sulut, Gunung Ruang