Artikel

Kodim di Sumba Gelar 'Gerakan Literasi' untuk Anak-Anak di Daerah 3T

10 Agustus 2026 Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur 3 views

Prajurit TNI di Sumba menginisiasi gerakan literasi dengan menjadi pendongeng dan pendamping belajar bagi anak-anak di daerah 3T. Kegiatan ini bertujuan membangun minat baca sejak dini sekaligus menjalin ikatan positif antara TNI dan masyarakat. Inisiatif sederhana ini menunjukkan bahwa kontribusi nyata bisa dimulai dari hal-hal dekat yang tulus menjawab kebutuhan dasar, seperti akses pendidikan dan literasi.

Kodim di Sumba Gelar 'Gerakan Literasi' untuk Anak-Anak di Daerah 3T

Kamu tau nggak, di ujung timur Indonesia ada sebuah pulau bernama Sumba. Di sana, bagi sebagian anak-anak, buku cerita seru yang biasa kita baca di kota besar bisa jadi barang mewah. Tapi kini, ada yang berbeda. Pojok-pojok desa di Sumba tiba-tiba diramaikan dengan seragam hijau TNI. Ya, prajurit-prajurit itu datang bukan untuk tugas biasa, tapi membawa buku dan dongeng untuk jadi pahlawan literasi bagi anak-anak setempat. Ini cerita sederhana yang justru punya dampak besar.

Dari Babinsa Jadi Kakak Pendongeng

Di daerah yang sering disebut 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) seperti Sumba, akses ke bahan bacaan memang bukan hal yang gampang. Pendidikan dan literasi bisa terasa jauh. Nah, melihat kondisi ini, para prajurit TNI dari Kodim setempat memutuskan untuk ambil peran baru. Mereka yang sehari-harinya bertugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa), sekarang punya 'jobdesc' tambahan yang lebih manis: jadi kakak pendongeng dan teman belajar yang asyik.

Aksi mereka konkret banget. Mereka mendirikan pojok baca dan menggelar sesi mendongeng secara rutin di desa-desa. Bayangin deh pemandangannya: prajurit dengan seragam lapangan datang membawa tas penuh buku cerita warna-warni. Mereka duduk lesehan bareng anak-anak, membacakan cerita dengan ekspresi yang lucu, dan membuat momen belajar jadi penuh tawa. Ini bukan sekadar bagi-bagi buku, tapi tentang menciptakan pengalaman pertama yang menyenangkan antara anak-anak dan dunia membaca.

Mengapa Literasi Sejak Dini Penting Banget?

Gerakan ini punya tujuan yang jauh lebih dalam. Ini tentang membangun fondasi. Dengan metode belajar sambil bermain, dongeng yang menarik, dan diskusi seru, tujuan utamanya adalah membuat anak-anak jatuh cinta dulu dengan aktivitas membaca. Kenapa ini jadi hal yang krusial? Karena kemampuan membaca dan memahami adalah kunci utama untuk membuka semua pintu ilmu lainnya di masa depan.

Kalau fondasi ini lemah atau nggak dibangun sejak awal, anak-anak akan kesulitan mengejar pelajaran lain. Ini adalah masalah nyata di banyak daerah 3T: ketimpangan akses di usia dini yang berimbas panjang. Gerakan seperti yang dilakukan TNI di Sumba ini berusaha mengikis ketimpangan itu dari akarnya, yaitu dengan membiasakan anak-anak akrab dan senang dengan buku sejak mereka masih kecil. Mereka sedang menanam benih untuk masa depan yang lebih cerah.

Dampaknya bagi masyarakat Sumba juga sangat terasa. Selain memberi 'hiburan edukatif' yang baru buat anak-anak, kegiatan ini membangun ikatan yang hangat antara TNI dan warga, terutama generasi muda. Anak-anak nggak lagi cuma melihat tentara sebagai sosok formal, tapi juga sebagai teman, kakak, dan sumber inspirasi yang bisa diajak bercanda sambil belajar. Ini adalah investasi sosial yang berharga untuk membangun kepercayaan dan semangat gotong royong membangun daerah bersama.

Cerita dari Sumba ini mengajarkan kita satu hal: kontribusi untuk negeri dan sesama nggak selalu harus berupa gebrakan besar. Seringkali, dampak yang paling berarti justru datang dari hal-hal sederhana, konsisten, dan tulus—sesuatu yang benar-benar menjawab kebutuhan di sekeliling kita, seperti membacakan dongeng untuk seorang anak.

Entitas yang disebut

Organisasi: Kodim

Lokasi: Sumba