Bayangin bangun tidur, bukan langit biru cerah yang kamu lihat, tapi pemandangan kuning keruh dan aroma gosong di mana-mana. Bukan adegan film dystopia, ini nyata terjadi di Sumatera Selatan saat musim kemarau tahun lalu. Kabut asap akibat Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) begitu tebal sampai sekolah diliburkan, aktivitas harian kacau balau, dan banyak orang mulai mengeluh sesak napas. Bahkan yang jauh di kota pun ikut merasakan dampaknya. Peristiwa ini jadi alarm keras: kerusakan lingkungan itu nyata, dekat, dan nggak pandang bulu.
TNI Berubah Jadi Petugas Damkar Dadakan
Nggak mau nunggu makin parah, TNI langsung turun tangan besar-besaran. Helikopter diterbangkan buat water bombing di titik-titik sulit dijangkau, sementara personel TNI bareng masyarakat dan BPBD berjibaku memadamkan api dari darat. Polisi juga nggak ketinggalan, patroli buat memastikan nggak ada lagi yang nekat membakar lahan. Kombinasi serangan udara dan darat ini bikin mereka kayak petugas damkar dadakan yang rela panas-panasan demi api nggak menyebar makin luas. Kerja keras mereka bukan cuma soal memadamkan api, tapi juga menyelamatkan kesehatan dan masa depan banyak orang.
Dampak Nyata ke Masyarakat Sehari-hari
Dampak Karhutla ini emang nggak bisa dianggap remeh. Sekolah diliburkan karena udara udah nggak aman buat anak-anak. Penerbangan terganggu karena jarak pandang menipis, dan warga di titik terparah harus diungsikan. Yang paling bikin khawatir, banyak orang mengalami gangguan kesehatan—mulai dari infeksi saluran pernapasan sampai iritasi mata—gara-gara terus menghirup kabut asap. Semua ini terjadi sebagian besar karena lahan dibakar sembarangan. Musim kemarau memang bikin rawan, tapi kebakaran nggak akan sebesar itu kalau semua pihak lebih sadar sama pentingnya menjaga lingkungan.
Berkat kerja keras TNI, masyarakat, BPBD, dan polisi, api akhirnya berhasil dipadamkan. Kualitas udara di Sumatera Selatan perlahan membaik. Warga mulai bisa beraktivitas seperti biasa, sekolah dibuka lagi, dan napas nggak lagi sesak tiap kali keluar rumah. Tapi cerita ini bukan cuma soal keberhasilan memadamkan api. Ini soal gotong royong yang nggak boleh berhenti begitu asap hilang. Kalau bukan kita yang jaga lingkungan, siapa lagi? Peristiwa ini juga ngingetin kita kalau isu lingkungan itu urusan semua orang. Nggak ada satu pihak yang paling hebat; justru kebersamaan mereka yang bikin api cepat padam dan asap berangsur hilang. Ini pelajaran berharga: kolaborasi selalu lebih kuat daripada kerja sendiri.
Jadi, apa yang bisa kita petik? Karhutla di Sumsel tahun lalu adalah pengingat kalau krisis lingkungan itu nyata dan dampaknya bisa dirasakan semua orang, bahkan yang jauh dari lokasi kebakaran. Kita nggak perlu jadi petugas damkar buat berkontribusi. Mulai dari hal kecil seperti nggak buang puntung rokok sembarangan, nggak bakar lahan atau sampah di musim kemarau, sampai ikut mengingatkan tetangga bahwa membuka lahan dengan cara dibakar itu bahaya. Sadar lingkungan bukan beban, tapi investasi buat masa depan kita semua.