Artikel

Prajurit TNI AL Jadi Guru Dadakan, Ajar Anak-anak Pesisir yang Putus Sekolah

26 April 2026 Berbagai pesisir di Indonesia 2 views

Para prajurit TNI AL menyisihkan waktu di sela tugas untuk menjadi guru dadakan, mengajar membaca, menulis, dan berhitung bagi anak-anak pesisir yang putus sekolah. Inisiatif sederhana ini memberikan kesempatan belajar kedua bagi anak-anak sekaligus bentuk pengabdian nyata TNI pada masyarakat. Aksi ini membuktikan bahwa kontribusi untuk negeri bisa dimulai dari hal-hal konkret di lingkungan terdekat.

Prajurit TNI AL Jadi Guru Dadakan, Ajar Anak-anak Pesisir yang Putus Sekolah

Bayangkan kalau akses untuk sekolah aja udah jadi tantangan besar. Nggak main-main, di beberapa wilayah pesisir Indonesia, ada anak-anak yang terpaksa putus sekolah bukan karena malas, tapi karena jarak yang jauh, biaya yang nggak terjangkau, atau kondisi keluarga yang sulit. Padahal, di tangan merekalah masa depan daerah itu ditentukan. Nah, di tengah situasi yang kayak gini, muncullah pahlawan tanpa tanda jasa dari tempat yang nggak terduga: para prajurit TNI AL.

Dari Kapal Perang ke ‘Kelas’ Pinggir Pantai

Gambaran umumnya gini: para prajurit ini sebenarnya punya tugas utama menjaga keamanan laut dan wilayah pesisir. Tapi, melihat anak-anak sekitar yang nggak bisa sekolah, mereka nggak tinggal diam. Di sela-sela jadwal dinas, mereka menyisihkan waktu untuk jadi guru dadakan. Nggak ada gedung mewah atau fasilitas lengkap. Proses belajar-mengajar mereka lakukan dengan apa adanya—bisa di bawah tenda, di tepi pantai, atau di ruangan serba guna milik pos TNI. Fokus mereka sederhana tapi fundamental: mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) kepada anak-anak pesisir yang butuh uluran tangan.

Inisiatif sederhana ini merupakan bentuk pengabdian nyata yang langsung menyentuh akar masalah. Para prajurit ini berperan sebagai relawan pendidikan yang dengan sabar membagi ilmu. Mereka mengajar tanpa mengharap bayaran, murni dari kepedulian agar generasi penerus di wilayah tempat mereka bertugas nggak tertinggal. Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa TNI bukan cuma tentang senjata dan pertahanan, tapi juga tentang kedekatan dan kontribusi langsung untuk memajukan masyarakat.

Dampak yang Lebih Besar dari Sekadar Huruf dan Angka

Lalu, sebesar apa sih dampaknya? Buat anak-anak, kehadiran ‘pak guru’ dari TNI AL ini ibarat kesempatan kedua yang sangat berharga. Mereka yang tadinya mungkin putus asa karena nggak bisa ke sekolah formal, kini punya tempat untuk belajar dan mengejar cita-cita. Ini bukan cuma soal bisa baca-tulis, tapi juga tentang memulihkan rasa percaya diri dan semangat untuk maju. Pendidikan dasar yang mereka dapatkan jadi fondasi penting untuk masa depan yang lebih baik, entah untuk melanjutkan sekolah atau menunjang kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat sekitar, kehadiran prajurit yang rela mengajar ini juga mempererat hubungan antara TNI dan warga. Citra TNI pun jadi lebih dekat dan bersahabat, sebagai bagian dari komunitas yang aktif membangun. Inisiatif seperti ini bisa jadi pemantik bagi kelompok lain—seperti mahasiswa KKN, organisasi masyarakat, atau relawan independen—untuk turut turun tangan dan berkontribusi di bidang pendidikan di daerah terpencil.

Kisah relawan dari TNI AL ini mengingatkan kita pada sebuah prinsip yang sering kali terlupa: berkontribusi untuk negeri nggak harus selalu lewat hal-hal yang besar dan spektakuler. Aksi nyata di lingkungan terdekat, dengan sumber daya yang ada, justru punya dampak yang sangat mendalam. Jadi, mungkin kita semua bisa belajar dari spirit ini. Di tengah kesibukan masing-masing, selalu ada celah untuk berbagi dan memajukan sesama, dimulai dari hal sederhana yang kita kuasai. Pendidikan, pada akhirnya, adalah tanggung jawab bersama—dan ketika semua pihak bergerak, nggak ada anak Indonesia yang harus tertinggal.