Kalau biasanya kita ngeluh karena sinyal lemot pas meeting online atau kuota internet habis di tengah tugas kuliah, ada kisah yang bikin kita mikir dua kali. Banjir besar di Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu bukan cuma nenggelamin rumah, tapi juga memutus akses pendidikan anak-anak. Sekolah-sekolah terpaksa tutup, buku-buku basah kuyup, dan waktu belajar yang berharga hilang begitu aja. Tapi di tengah keterpurukan itu, ada secercah harapan yang datang dari seragam loreng.
Guru Dadakan dari TNI AU: Seragam Tempur Jadi Seragam Mengajar
Saat proses pemulihan berlangsung, sekelompok prajurit TNI AU yang bertugas di lokasi bencana punya ide nggak biasa. Mereka nggak cuma sibuk evakuasi dan dengar-dengar soal logistik, tapi juga mendirikan sekolah darurat di tenda-tenda pengungsian. Mereka berubah jadi guru dadakan yang ngajarin baca, berhitung, sampai nyanyi-nyanyi seru. Bahkan, mereka ngajak anak-anak baris-berbaris dan kenalin dunia kedirgantaraan dengan cara asyik. Ini bikin inget, bahwa seragam tempur bisa banget jadi seragam mengajar yang penuh arti.
Kehadiran para prajurit ini dampaknya nggak main-main buat anak-anak yang lagi stres karena banjir. Mereka nggak cuma dicegah dari learning loss, tapi juga dikasih semangat baru. Bayangin deh, di tenda sederhana tanpa papan tulis megah, anak-anak tetap antusias belajar. Padahal kita di rumah dengan fasilitas lengkap aja sering ogah-ogahan buat buka buku atau laptop. Cerita ini jadi pelajaran berharga: fasilitas bukan segalanya, niat dan semangat yang bikin proses belajar jadi berarti.
Buat kita yang terbiasa nyaman, kisah ini ngingetin bahwa pendidikan adalah hak yang nggak boleh berhenti, bahkan saat keadaan paling buruk sekalipun. Para guru dadakan dari TNI AU ini ngasih contoh nyata bahwa kepedulian bisa diwujudkan dalam aksi kecil yang berdampak besar. Jadi, yuk hargai setiap kesempatan belajar yang kita punya—mulai dari bangun pagi buat kelas, sampai selesaiin tugas yang numpuk. Karena di luar sana, banyak yang berjuang demi ilmu meski dalam keterbatasan. Kalau mereka aja sanggup, masa kita enggak?