Bayangin harus sekolah daring tapi sinyal internet di rumahmu nol besar. Nggak bisa buka materi, nggak bisa kirim tugas, bahkan buat chat guru aja susah. Situasi ini nyata banget dirasain anak-anak di daerah blank spot atau area tanpa sinyal. Di tengah kesulitan itu, hadir pemandangan yang menghangatkan hati: sejumlah prajurit TNI di pos terpencil memutuskan buat jadi tutor dadakan.
Dari Pos Jaga Jadi Ruang Belajar Darurat
Berawal dari keprihatinan melihat anak-anak yang berisiko tertinggal pelajaran hanya karena keterbatasan infrastruktur, para prajurit ini mengambil inisiatif. Mereka meminjamkan fasilitas internet satelit terbatas milik pos untuk dipakai belajar daring. Anak-anak kemudian dikumpulkan di ruang tertentu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Nggak cuma sekadar menyediakan akses internet, para prajurit ini juga mendampingi anak-anak mengerjakan tugas sekolah online.
Bantuan mereka cukup lengkap. Mulai dari menjelaskan materi yang nggak dipahami, memastikan tugas-tugas terkumpul, sampai kadang jadi perantara komunikasi dengan guru lewat pesan singkat kalau sinyal sedang memungkinkan. Semua dilakukan secara sukarela, di sela-sela tugas pokok mereka sebagai prajurit. Aksi ini muncul bukan karena diminta, tapi karena melihat langsung kesulitan masyarakat di sekitar pos.
Belajar Daring yang Nggak Merata, Nyata Adanya
Kisah ini jadi pengingat keras tentang digital divide atau kesenjangan akses digital yang masih terjadi di Indonesia. Di saat sebagian besar dari kita bisa dengan mudah mengikuti kelas online dari kamar, masih ada banyak anak yang harus berjuang ekstra keras untuk sekadar mengakses pelajaran yang sama. Pendidikan yang seharusnya jadi hak semua anak, ternyata masih terhambat oleh masalah infrastruktur.
Kehadiran prajurit TNI sebagai jembatan ini menunjukkan bahwa solusi nggak selalu harus datang dari program besar. Bisa mulai dari aksi kecil yang dilakukan oleh komunitas, termasuk mereka yang berada di garis terdepan. Ini bukti bahwa kepedulian terhadap belajar anak-anak bisa datang dari siapa saja, di mana saja, dan dalam bentuk apa saja. Peran serta masyarakat seperti ini penting banget untuk memastikan hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi di masa sulit.
Buat kita yang selama ini menikmati kemudahan akses internet, kisah ini mungkin terasa jauh. Tapi justru dari sini kita bisa belajar bahwa nggak semua orang punya privilege yang sama. Yang bisa kita lakukan adalah lebih menghargai kesempatan belajar yang ada, dan kalau punya kemampuan, ikut berkontribusi—sekecil apa pun—untuk membantu mereka yang kesulitan. Karena pendidikan itu soal gotong royong, bukan cuma tanggung jawab guru dan pemerintah.