Bayangin kamu harus ikut kelas online, tapi sinyal internet di rumah nggak stabil, gadget yang ada juga seadanya, dan kuota bukan barang murah. Di kota, mungkin kita cuma komentar “Zoom-nya lag banget” sambil ganti koneksi. Tapi buat anak-anak di perbatasan Kalimantan, ceritanya jauh lebih berat. Mereka justru bisa kehilangan akses pendidikan sama sekali. Nah, di tengah situasi seperti ini, muncullah inisiatif sederhana tapi luar biasa dari personel Satgas TNI di perbatasan RI-Malaysia: mengubah posko mereka jadi “sekolah darurat” buat anak-anak sekitar.
Posko TNI yang Berubah Jadi Ruang Belajar
Personel Satgas TNI yang bertugas di perbatasan RI-Malaysia melihat langsung bagaimana anak-anak di daerah tersebut kesulitan mengikuti sekolah online. Sinyal yang nggak stabil, keterbatasan ekonomi keluarga, dan harga gadget yang mahal bikin mereka tertinggal dari pelajaran. Alih-alih diam, para prajurit yang punya latar belakang pendidikan tertentu memutuskan untuk turun tangan. Mereka jadi guru dadakan dan mengajarkan materi sekolah dasar, mulai dari baca tulis sampai hitung-hitungan.
Suasananya jauh dari mewah. Mereka memakai papan tulis sederhana dan buku-buku yang berasal dari sumbangan. Tapi justru di situlah kehangatannya. Nggak cuma belajar, anak-anak juga dapat makan siang bergizi dari dapur umum posko. Jadi, mereka nggak cuma dapat ilmu, tapi juga kebutuhan dasar yang mendukung semangat belajar. Salah satu orang tua mengaku sangat terbantu. Dia nggak mampu beli kuota internet, dan anaknya jadi kembali semangat sekolah. Cerita ini jadi pengingat bahwa pendidikan punya banyak pintu masuk — dan nggak selalu harus lewat layar.
Kesenjangan Digital Itu Nyata, Bukan Sekadar Istilah
Inisiatif ini juga membuka mata kita tentang digital divide atau kesenjangan digital yang masih sangat nyata di Indonesia. Istilah ini mungkin terdengar teknis, tapi dampaknya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sementara sebagian dari kita bisa komplain karena meeting online lemot, ada anak-anak di perbatasan yang bahkan nggak sempat mengakses kelas yang sama. Mereka menghadapi tembok yang jauh lebih besar: infrastruktur dan biaya.
Padahal, pendidikan adalah hak semua anak-anak, di mana pun mereka berada. Yang bikin cerita ini menarik bukan cuma bantuan teknologinya, tapi pendekatan manusianya. Para prajurit TNI memilih turun langsung, mengajar dengan sabar, dan memastikan anak-anak tetap mendapat pelajaran meski tanpa internet. Ini menunjukkan bahwa kadang solusi paling tepat justru yang paling sederhana dan dekat dengan kemanusiaan.
Buat kita yang tumbuh dengan kemudahan akses internet, cerita ini jadi refleksi. Pendidikan di era digital memang harus mengandalkan teknologi, tapi jangan sampai kita lupa masih ada teman-teman yang belum sampai ke sana. Inisiatif “sekolah darurat” ini mengajarkan bahwa kemajuan hanya bermakna kalau dirasakan semua kalangan. Dan siapa pun bisa punya peran — bahkan dengan papan tulis, buku sumbangan, dan niat tulus untuk berbagi.