Artikel

TNI Jadi Mediator Konflik Lahan di Sulsel: Pendekatan Kekeluargaan, Bukan Kekerasan

26 Agustus 2026 Sulawesi Selatan 6 views

Konflik lahan antara dua desa di Sulsel nyaris memicu bentrok, namun TNI berhasil meredakannya dengan pendekatan kekeluargaan. Melalui mediasi yang melibatkan tokoh adat dan pemuda, lahan sengketa dialihfungsikan menjadi fasilitas umum bersama. Kisah ini menunjukkan bahwa resolusi damai dan kerukunan lebih efektif daripada kekerasan.

TNI Jadi Mediator Konflik Lahan di Sulsel: Pendekatan Kekeluargaan, Bukan Kekerasan

Pernah nggak sih, lo denger berita soal sengketa lahan yang bikin dua desa saling klaim, bahkan hampir bentrok? Nah, di Sulawesi Selatan, tepatnya pertengahan 2024 lalu, kejadian ini nyata banget. Warga dari dua desa sempat terlibat ketegangan karena lahan yang diperebutkan. Tapi yang bikin beda, bukan polisi atau pengadilan yang turun tangan, melainkan TNI dengan pendekatan yang nggak biasa—pendekatan kekeluargaan, bukan kekerasan. Kisah ini viral dan bikin kita mikir, ternyata resolusi konflik bisa semanis itu.

Mediasi Ala TNI: Duduk Bareng, Nggak Ada yang Dipaksakan

Konflik lahan ini sebenarnya udah berlangsung cukup lama, sampe akhirnya memanas dan nyaris memicu bentrokan fisik. Tapi Kolonel Taufik dari Korem setempat nggak langsung bawa pasukan. Sebaliknya, dia ngajak semua tokoh adat, tokoh agama, dan pemuda dari kedua desa untuk duduk bareng. 'Kami ajak semua elemen duduk bersama. Tidak ada yang dipaksakan,' ujarnya. Hasilnya? Musyawarah itu berbuah titik temu: lahan yang disengketakan akhirnya digunakan bersama untuk fasilitas umum. Bukan dibagi-bagi secara pribadi, tapi demi kepentingan bersama. Ini contoh nyata bahwa mediasi dengan hati bisa mengalahkan ego sektoral.

Dampak ke Warga: Kerukunan Kembali, Manfaat untuk Semua

Dampak dari pendekatan ini langsung terasa. Konflik yang tadinya bikin warga saling curiga dan tegang, perlahan reda. Bahkan, mereka sekarang bisa kerja sama memanfaatkan lahan tersebut buat kepentingan umum—entah itu balai desa, lapangan olahraga, atau posyandu. Yang lebih penting, rasa kekeluargaan antarwarga pulih. Nggak ada lagi cerita saling serang atau saling klaim. Ini bukti bahwa ketika konflik lahan diselesaikan dengan cara damai, hasilnya nggak cuma menguntungkan satu pihak, tapi seluruh komunitas. Bayangin aja, kalau dulu mereka bertengkar, sekarang malah bisa gotong royong bangun fasilitas bareng. Inspiratif banget, kan?

Pelajaran buat Kita: Kekeluargaan Lebih Efektif daripada Kekerasan

Kisah ini ngajarin kita sesuatu yang simpel tapi dalem: resolusi damai itu lebih efektif daripada kekerasan. TNI yang biasanya identik dengan perang dan senjata, di sini justru tampil sebagai perekat sosial. Mereka nggak cuma jago tempur, tapi juga jago mendamaikan. Bagi kita anak muda, pesannya jelas: kalau ada konflik, sekecil apa pun, coba deh duduk bareng dulu. Ngobrol, dengerin, dan cari titik temu. Nggak perlu saling serang atau main hakim sendiri. Karena pada akhirnya, kerukunan itu jauh lebih berharga daripada lahan atau harta benda. Jadi, yuk mulai dari diri sendiri, biasakan musyawarah dalam setiap perselisihan.

Entitas yang disebut

Orang: Kolonel Taufik

Organisasi: TNI, Korem

Lokasi: Sulawesi Selatan